Tampilkan posting dengan label Skripsi. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label Skripsi. Tampilkan semua posting

Perbandingan hasil belajar matematika yang menggunakan model Grup Investigation (GI) dan Jigsaw


Perbandingan hasil belajar matematika yang menggunakan model Grup Investigation (GI) dan Jigsaw


Selamat malam sobat Phisic Education postingan kali ini adalah tentang Skripsi pendidikan yang akan membahas tentang metode pembelajaran, dengan judul Perbandingan hasil belajar matematika yang menggunakan model cooperative learning tipe grup investigation dan jigsawGroup Investigation (GI) adalah kegiatan kelompok yang memfokuskan pada kegiatan inkuiri, diskusi kelompok, dan proyek kelompok secara koopertif, sedangkan Jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengarjarkan bagian tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya. Dari perbandingan tersebut akan terlihat kelebihan dan kekurangan dari masing-masing metode. Untuk lebih jelasnya sobat buktikan sendiri hehehe. Silahkan sobat baca Jurnal menarik lainnya untuk menambah wawasan dan pengetahuan. terimakasih kunjungan anda dan ketersediaan membaca artikel tentang  perbandingan hasil belajar matematika yang menggunakan model cooperative learning tipe grup investigation dan jigsaw



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah
Pendidikan memegang peranan penting dalam meningkatkan sumber daya manusia, karena dapat meningkatkan kualitas intelektual, pemahaman religius, serta kemampuan mengoptimalkan potensi dengan keterampilan maupun moralitas manusia, sehingga perlu adanya perencanaan yang baik di dalam pelaksanaannya. Proses pendidikan harus berjalan secara sistematis dan teratur, sehingga tujuan untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia dapat tercapai.
Dalam rangka meningkatkan kemampuan sumber daya manusia yang berkualitas, maka mutu pendidikan harus ditingkatkan. Menyadari betapa penting dan besarnya peranan pendidikan, maka pemerintah telah melakukan berbagai upaya, tetapi hasilnya belum optimal. Ada pun usaha-usaha yang dilakukan pemerintah diantaranya adalah perubahan kurikulum untuk memperbarui susunan materi ajar, disahkannya undang-undang guru dan dosen yang bertujuan meningkatkan profesionalisme pendidikan dan penambahan sarana prasarana yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebutuhan masyarakat.
Untuk meningkatkan mutu pendidikan dan prestasi belajar siswa, sejauh ini SMP Negeri 3 Batanghari telah melakukan berbagai upaya seperti merekrut guru-guru yang berkualitas dibidangnya, mengikut sertakan guru-guru mengikuti penataran,  melengkapi kelengkapan buku-buku di perpustakaan, pembenahan dan perbaikan ruang belajar, gedung sekolah, laboraturium IPA, laboraturium komputer dan salah satu kiat yang telah dilakukan oleh semua pihak sekolah dalam rangka meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa adalah dengan mengaktifkan kegiatan belajar mengajar dan disiplin  kehadiran para siswa serta guru.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

a.  Tipe Grup Investigation
Dalam model pembelajaran kooperatif, terdapat bermacam-macam tipe, salah satunya adalah tipe Group Investigation (GI) atau kelompok penyelidikan, yakni kegiatan kelompok yang memfokuskan pada kegiatan inkuiri, diskusi kelompok, dan proyek kelompok secara koopertif. Siswa membentuk kelompok 5-6 siswa, setiap kelompok memilih topik yang disajikan dikelas (aspek proyek), kemudian membagi topik-topik tersebut untuk dikerjakan oleh tiap kelompok (pembagian kerja/aspek inkuiri), kemudian menggabungkan hasil temuan individu menjadi laporan kelompok (aspek diskusi), kemudian setiap kelompok menyajikan hasil kerja dalam suatu diskusi kelas.
Andri (2009:4) menyatakan bahwa:  
Tipe group investigation ini melibatkan siswa sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik, maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigation. Tipe ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam ketrampilan proses kelompok (group process skills).

b.  Tipe Jigsaw
Model pembelajaran kooperatif  tipe jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengarjarkan bagian tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya.
Lie (2004:69) menyatakan bahwa:
Dalam tekhnik ini, guru memperhatikan skema atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skema ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna.Selain itu, siswa bekerja dengan sesama siswa dalam suasana gotong  royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi. Menurut Komalasari (2010:65) Pada dasarnya, dalam model ini guru membagi satuan informasi yang besar menjadi komponen–komponen lebih kecil. Selanjutnya guru membagi siswa kedalam kelompok belajar koopratif yang terdiri dari empat orang siswa sehingga setiap anggota bertanggung jawab terhadap penguasaan setiap komponen/subtopik yang ditugaskan guru dengan sebaik-baiknya.

BAB III 
METODE PENELITIAN

A.  Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah salah satu penelitian yang bersifat kuantitatif, yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa. Pada penelitian  ini jenis penelitian yang akan dilakukan adalah komparatif atau perbandingan, dimana peneliti menggunakan dua tipe dalam proses pembelajarannya. Adapun dalam proses pelaksanaanya nanti akan dibagi menjadi 2 kelompok yang terdiri dari 2 kelas, dan masing-masing kelas akan menggunakan tipe pembelajaran yang berlainan, yaitu untuk kelompok I menggunakan model cooperative learning tipe Grup Investigation (X1) dan kelompok II menggunakan tipe Jigsaw (X2).
Untuk kelompok I yaitu pembelajaran menggunakan model cooperative learning tipe Grup Investigation dimana materi disampaikan dengan menggunakan tipe tersebut, adapun pelaksanaannya guru mengarahkan dan menerangkan secara global materi apa yang akan dibahas yaitu materi Kubus dan Balok, kemudian guru membagi kelompok dalam kelas tersebut yang masing-masing kelompok terdiri dari  4-6 orang siswa. Dengan komposisi kelompok yang heterogen baik dalam jenis kelamin, etnik, maupun kemampuan akademik.

               Selengkapnya hingga BAB V Disini

Ryo Bambang Saputra Skripsi

Pengaruh keterampilan proses sains melalui inkuiri terbimbing



Pengaruh keterampilan proses sains melalui inkuiri terbimbing
Selamat malam sobat Phisic Education postingan kali ini adalah tentang Pengaruh keterampilan proses sains melalui inkuiri terbimbing. Keterampilan proses dalam pembelajaran sangatlah penting, hal tersebut telihat saat pembelajaran apakah siswa hanya diberi materi semata namun tidak mengetahui sejauh mana keterampilan ia dalam mengamati, memprediksi, mengklasifikasi, mengukur, komunikasi, dan menyimpulkan. Bila seorang siswa memiliki 6 keterampilan proses sains tersebut maka siswa tersebut dikatakan terampil dalam pembelajaran, dan untuk memberdayakan keterampilan proses sains tersebut maka metode yang tepat adalah inkuiri bahwasanya inkuiri tersebut adalah metode dimana siswa aktif dalam pembelajaran, dan guru hanyalah fasilitator. Keterampilan proses sains adalah pengembangan keterampilan intelektual, sosial dan fisik yang prinsipnya telah ada dalam diri siswa. Melalui inkuiri terbimbing siswa dapat merumuskan sendiri penemuannya untuk menemukan fakta, konsep, atau prinsip. Untuk lebih jelasnya sobat dapat membaca ringkasan Skripsi tersebut. Terimakasih anda telah berkunjung dan bersedia membaca coretan sederhana ini. Sekian penjelasan saya tentang Pengaruh keterampilan proses sains melalui inkuiri terbimbing semoga bermanfaat bagi anda.

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Sains merupakan ilmu yang berkaitan dengan cara mencari tahu dan proses penemuan tentang alam secara sistematis.  Sains menggunakan suatu pendekatan emperis melalui pengamatan untuk mencari penjelasan tentang fenomena alam.  Hal ini sangatlah menantang dan menarik terutama bagi siswa untuk berpikir secara ilmiah.  Hal tersebut perlu dijadikan dasar pertimbangan dalam mengembangkan mata pelajaran sains termasuk biologi (Mulyasa, 2008:211-212). Mata pelajaran biologi termasuk dalam rumpun pelajaran IPA yang memiliki karakteristik memerlukan kegiatan penyelidikan/eksperimen sebagai bagian dari kerja ilmiah yang melibatkan keterampilan proses sains yang dilandasi sikap ilmiah.  Selain itu, pembelajaran biologi mengembangkan rasa ingin tahu melalui penemuan/inkuiri berdasarkan pengalaman langsung yang dilakukan melalui kerja ilmiah untuk memanfaatkan fakta, membangun konsep, prinsip, teori, dan hukum. 

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.  Model Inkuiri Terbimbing
Menurut Gulo (2002, dalam Trianto, 2007:135-137) model inkuiri adalah suatu model dalam kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga siswa dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan percaya diri.  Pembelajaran inkuiri dirancang untuk mengajak siswa secara langsung ke dalam proses ilmiah dalam waktu yang relatif singkat.  yang bermula dari merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, menganalisis data, dan membuat kesimpulan.

B.  Keterampilan Proses Sains
Penilaian keterampilan proses sains dapat diartikan sebagai penilaian terhadap proses belajar yang sedang berlangsung, yang dilakukan oleh guru dengan memberi umpan balik secara langsung kepada siswa atau kelompok siswa (Usman, 2002:42).  Untuk menilai keterampilan proses sains dapat digunakan cara non tes dengan menggunakan lembar pengamatan.  Hal ini dilakukan guru pada waktu siswa sedang belajar.  Penilaian terhadap keterampilan proses sains dapat pula dilakukan dengan cara tes tertulis (Usman, 2002:44).
Menurut Funk (1985:xiii, dalam Dimyati dan Mudjiono, 2002:138-139) keterampilan proses sains  memberikan kepada siswa pengertian yang tepat tentang hakikat ilmu pengetahuan. Siswa dapat mengalami rangsangan ilmu pengetahuan dan dapat lebih baik mengerti fakta dan konsep ilmu pengetahuan.  Dengan keterampilan proses sains berarti memberi kesempatan kepada siswa bekerja dengan ilmu pengetahuan, tidak sekedar menceritakan atau mendengarkan cerita tentang ilmu pengetahuan. Menggunakan keterampilan proses sains untuk mengajar ilmu pengetahuan, membuat siswa belajar proses dan produk ilmu pengetahuan sekaligus. Keterampilan proses sains siswa merupakan keterampilan dalam pembelajaran yang mengarah kepada pengembangan kemampuan-kemampuan mental, fisik, dan sosial yang mendasar sebagai penggerak kemampuan yang lebih tinggi dalam diri individu siswa.

BAB III
MODEL PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 2 Pringsewu pada bulan Desember-Juni 2010.

b.  Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI IPA SMA Negeri 2 Pringsewu tahun pelajaran 2009/2010. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik cluster random sampling. Sampel tersebut adalah siswa kelas XI IPA2 sebagai kelas eksperimen dan siswa kelas XI IPA3 sebagai kelas kontrol yang masing-masing kelas berjumlah 34 siswa.

c.  Desain Penelitian
Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain pretes-postes kelompok non ekuivalen.  Kelas eksperimen maupun kelas kontrol  menggunakan kelas yang ada dengan kondisi homogen.  Kelas eksperimen diberi perlakuan dengan model inkuiri terpimpin, sedangkan kelas kontrol tidak menggunakan model inkuiri terpimpin, tetapi menggunakan metode diskusi informasi.  Hasil pretes dan postes pada kedua kelas subyek dibandingkan.


                Selengkapnya hingga BAB V Download Disini



Ryo Bambang Saputra Skripsi

Analisis Kesulitan Penguasaan Konsep Matematika

Analisis Kesulitan Penguasaan Konsep Matematika

Dalam Pembelajaran terkadang kita merasa jenuh ataupun bosan, timbulnya terjadi ribut ataupun siswa tertidur. Akibatnya siswa menjadi bosan dalam belajar, mungkin dari kita yan harus mulai merubah suatu metode yang lebih menarik dan baru agar mereka selalu terfokus dalam pembelajaran, misal mengganti  metode, bahan ajar, ataupun media yang menarik agar berkembangnya ilmu pendidikan.  Tujuan utama seorang pengajar ataupun calon pengajar harus mampu membuat peserta didik terampil dalam berfikir, bercakap, maupun bersosialisi dilingkungan sekolah maupun masyarakat. Berkembangnya suatu negara itu berasal dari calon-calon penerus masa depan oleh karena itu kita sebagai harus bisa membangun dan turut membantu masa depan mereka. Kali ini Phisic Education akan membahas tentang Analisis Kesulitan Penguasaan Konsep banyak terjadinya kesalahan pada saat mengerjakan soal fisika maupun matematika itu di sebabkan oleh beberapa faktor salah satunya adalah kurangnya pemahaman konsep, oleh karena itu disini saya akan memberi masukan kepada calon pengajar untuk menganalisis beberapa faktor kesalahan konsep tersebut. Penguasaan konsep merupakan tingkat kemampuan yang mengharapkan siswa mampu menguasai/memahami arti atau konsep, situasi dan fakta yang diketahui, serta dapat menjelaskan dengan menggunakan kata-­kata sendiri sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya dengan tidak mengubah artinya. Untuk lebih jelasnya sobat dapat membaca Skripsi di bawah ini. Semoga coretan tentang Analisis Kesulitan Penguasaan Konsep bermanfaat bagi anda sekian dan terima kasih sobat telah berkunjung kemari.

BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang Masalah

Dewasa ini, dunia kita ditandai oleh perubahan-perubahan yang sangat   cepat dan bersifat global. Hal ini diakibatkan oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat. Manusia dituntut untuk tahu banyak, berbuat banyak, unggul, menjalin kerja sama dengan orang lain dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di era global yang kompetitif
Saat ini yang menjadi sorotan dunia adalah perkembangan pendidikan. Pendidikan ada sejak manusia ada dan berlangsung seumur hidup, sehingga setiap manusia baik secara sadar atau tidak sadar pasti mengalami atau mengenyam pendidikan. Bagi yang menyadari akan pentingnya pendidikan, maka manusia akan merasakan bahwa pendidikan merupakan kebutuhan utama bagi dirinya, sebab hanya dengan pendidikan manusia dapat merubah dirinya menjadi lebih baik.
Karena itu, Manusia pula dituntut untuk banyak belajar. Belajar memainkan peran penting dalam mempertahankan kehidupan manusia ditengah-tengah persaingan yang sangat ketat diera globalisasi ini. Dari perspektif agama hal tersebut sesuai dengan firman Allah SWT dalam Q.S Al-Mujadalah ayat 11 yang artinya, “…niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat,…”.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.  Pustaka yang Menyangkut Variabel Penelitian
1.    Belajar
Pengertian belajar yang selalu kita dapatkan dari setiap ahli menunjukkan variasi yang beragam. Keberagaman dari pengertian yang diberikan menekankan dapa segi tententu. Belajar merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan bagi setiap manusia dan dengan adanya proses belajar akan meningkatkan dan membantu perkembangan aspek-aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Menurut Gagne (dalam Sagala, 2003:17) mengemukakan bahwa “ belajar adalah perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia yang terjadi setelah belajar secara terus menerus bukan hanya disebabkan oleh proses pertumbuhan saja”. Sanjaya (2010:229) mengemukakan bahwa “Belajar adalah suatu proses aktivitas mental seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya sehingga menghasilkan perubahan tingkah lakuyang bersifat positif baik perubahan dalam aspek pengetahuan, sikap, maupun psikomotor”. Menurut Karwono dan heni mularsih (2010:19) mengemukakan bahwa : Belajar pada hakikatnya adalah suatu proses perubahan tingkah laku sebagai akibat interaksi individu dengan lingkungan. Dalam proses belajar secara umum berlaku prinsip kesiapan (readness), prinsip motivasi (motivation), prinsip persepsi, prinsip tujuan, prisip perbedaan individual, prinsip transfer dan retensi, prinsip belajar kognitif, prinsip belajar afektif, prinsip belajar psikomotor, serta prinsip evaluasi.

BAB III
METODE PENELITIAN

A.   Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif, sebab dalam penelitian ini peneliti berusaha menganalisis kesulitan penguasaan konsep Aljabar yang dialami siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Ketapang Lampung Selatan Tahun Pelajaran 2012/2013. Sebagaimana menurut Arikunto (1997: 245) mengungkapkan bahwa, “ penelitian deskriptif merupakan penelitian nonhipotesis sehingga langkah penelitiannya tidak perlu merumuskan hipotesis”. Dari uraian diatas, dalam penelitian deskriptif bukan mengkaji kebenaran teori, melainkan membangun berdasarkan data yang disimpulkan. Penelitian ini juga merupakan penelitian nonhipotesis dimana peneliti mengembangkan konsep serta menghimpun fakta tetapi tidak melakukan pengujian hipotesis.

B.    Kehadiran Peneliti
Kehadiran peneliti dalam penelitian ini adalah sebagai instrumen yang langsung bertindak sebagai pengumpul data dan pelaku penelitian yang membagikan tes kepada subjek yang diteliti.

C.    Tahap-tahap dalam Penelitian
Rancangan penelitian ini dapat diartikan sebagai strategi untuk mengatur latar penelitian agar peneliti memperoleh data yang valid sesuai dengan karakteristik variabel dan tujuan penelitian.

             Selengkapnya Hingga BAB V Download Disini
Ryo Bambang Saputra Skripsi

Meningkatkan aktivitas dan hasil belajar melalui metode make a match

Meningkatkan aktivitas dan hasil belajar melalui metode make a match




Selamat malam sobat Phisic Education bagaimana keadaan anda? semoga dalam keadaan sehat wal'afiat. masih seputar Skripsi sobat dengan Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Melalui Metode Make a Match yaitu teknik pembelajaran mencari pasangan. Tentunya bukan mancari pasangan pacar ya sobat namun Metode Make a Match adalah  model pembelajaran Mencari Pasangan. Setiap siswa mendapat sebuah kartu (bisa soal atau jawaban), lalu secepatnya mencari pasangan yang sesuai dengan kartu yang ia pegang. untuk lebih lengkapnya sobat dapat membaca-baca di bawah dan Download hingga BAB V. Sekian dari saya tentang Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Melalui Metode Make a Match semoga Bermanfaat, kritik dan saran silahkan tulis pada komentar.
  
BAB I
PENDAHULUAN

      A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah. Berkembangnya  suatu bangsa banyak ditentukan oleh kualitas pendidikan bangsa tersebut. Oleh karena itu, untuk menyelenggarakan pendidikan harus dimulai dengan pengadaan tenaga pendidik dan fasilitas pendidikan sampai pada usaha meningkatkan mutu pendidik.
Banyak upaya yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan, tetapi hasilnya belum optimal. Hal ini ditunjukan pada beberapa sekolah yang prestasi belajarnya belum mengalami perubahan yang berarti. Adapun usaha-usaha yang dilakukan pemerintah diantaranya adalah perubahan kurikulum untuk memperbaharui susunan materi ajar, disahkannya undang-undang sertifikasi guru yang bertujuan meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan dan penambahan sarana prasarana yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebutuhan masyarakat. Selain pemerintah, guru juga bertanggung jawab atas perubahan proses tersebut, yaitu bagaimana pembelajaran yang disampaikan dapat dipahami oleh siswa secara benar. Dengan demikian, proses pembelajaran ditentukan sampai sejauh mana guru dapat menggunakan metode dan tipe pembelajaran dengan baik.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

      A.  Pustaka Yang Menyangkut Variabel
      1.   Pengertian Metode Pembelajaran kooperatif.
Menurut Lie (2002:27) menyatakan bahwa:
Pembelajaran kooperatif adalah suatu tipe pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4 sampai 6 orang, dengan struktur kelompoknya yang bersifat heterogen. Selanjutnya dikatakan pula, keberhasilan dari kelompok tergantung pada kemampuan dan aktivitas anggota kelompok, baik secara individual maupun secara kelompok.
Sejalan dengan pengertian diatas Johnson dan Johnson (Lie, 2002:17) menyatakan bahwa: Pembelajaran kooperatif dapat didefinisikan sebagai sistem kerja/ belajar kelompok yang terstruktur. Ada lima unsur pokok yang termasuk dalam struktur ini yaitu: saling ketergantungan positif, tanggung jawab, individual, interaksi personal, keahlian bekerja sama dan evaluasi proses kelompok.
Kemudian Solihatin dan Raharjo (2005:4) menyatakan bahwa pada dasarnya pembelajaran kooperatif mengandung pengertian: Suatu sikap atau prilaku bersama dalam bekerja atau membantu diantara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yaitu terdiri dari dua orang atau lebih dimana keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari setiap anggota kelompok itu sendiri.

BAB III
METODE PENELITIAN

         A.  Rancangan Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (class Room Action Research). Penelitian ini berusaha mengkaji merefleksi secara kritis dan kolaboratif suatu rencana pembelajaran terhadap kinerja guru, interaksi guru dengan siswa, serta interaksi siswa dalam kelas. Adapun pelaksanaan penelitian ini dilakukan proses perbaikan terus menerus atau tindakan  berulang (siklus), sehingga dari siklus pertama, kedua dan seterusnya dapat diperoleh hasil yang semakin baik untuk pencapaian tujuan penelitian.  

              Selengkapnya hingga BAB V Download Disini


Ryo Bambang Saputra Skripsi

Meningkatkan aktivitas dan hasil belajar dengan metode pemecahan masalah (Problem Solving)


Meningkatkan aktivitas dan hasil belajar dengan metode pemecahan masalah (Problem Solving)

Dalam dunia pendidikan Metode adalah suatu cara agar pembelajaran bermakna kooperatif dan tidak berpusat pada seorang guru, jadi siswa dituntut aktif dalam pembelajaran, pastinya beberapa metode yang baik akan membuahkan hasil yang baik yaitu tercapai suatu pembelajaran yang efektif dan menarik, Salah satu metode kali ini  Phisic Education akan membahas tentang Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar dengan Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving). Problem solving yaitu suatu pendekatan dengan cara problem identifikasi untuk ketahap syntesis kemudian dianalisis yaitu pemilihan seluruh masalah sehingga mencapai tahap application selajutnya untuk mendapatkan solution dalam penyelesaian masalah tersebut. Tentunya dalam pemilihan judul ataupun metode dalam pembelajaran harus tepat agar tecapai tujuan pendidikan tersebut, dan sobat juga dapat melihat Skripsi Pendidikan dengan berbagai metode lainnya yang lebih menarik. Silahkan sobat membaca sekilas tentang Problem Solving dan Download selengkapnya di bawah. Semoga coretan sederhana bermanfaat bagi anda sekian skripsi tentang Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar dengan Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving) dan terima kasih sobat telah berkunjung kemari.

BAB  I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Belajar adalah suatu bentuk perubahan baru dalam diri seseorang yang dinyatakan dengan cara bertingkah laku atau dalam kegiatan yang sengaja berkat pengalaman dan latihan. Perubahan baru yang selalu diharapkan oleh semua unsur yang terkait dalam pembelajaran tentunya menuju ke arah kegiatan yang lebih baik dari sebelumnya. Pengalaman yang telah dimiliki oleh pengajar dan siswa, kemauan ketekunan sendiri, kesadaran atas tanggung jawab belajar, proses belajar, dan bimbingan menjadi bahan yang utama untuk menentukan arah dan hasil dari pembelajaran.

Untuk mencapai hasil belajar yang diharapkan, diperlukan rencana dan program pengajaran yang baik dan bermutu, selain itu perlu diperhatikan pula berbagai faktor yang turut menentukan hasil belajar, baik yang berasal dari diri siswa seperti motivasi, minat, perhatian, dan aktivitas siswa maupun yang berasal dari luar siswa seperti: teman, keluarga, lingkungan, sumber belajar, tenaga pendidik dalam kegiatan belajar mengajar.

Dari hasil observasi, di SMA Negeri 5 Metro, metode yang digunakan guru dalam proses belajar mengajar yaitu pada awal pembelajaran guru menyampaikan materi, memberikan contoh soal kemudian siswa mengerjakan latihan soal yang ada di buku panduan dan di akhir pembelajaran siswa diberi pekerjaan rumah atau PR.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Pustaka

1.  Pengertian Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving)

Pengertian metode problem solving menurut Bambang Prawiro (1986:36) bahwa “Metode problem solving adalah suatu metode mengajar dengan jalan menghadapkan siswa pada suatu masalah yang harus dipecahkan oleh siswa sendiri dengan mengarahkan segala kemampuan yang ada pada masing-masing diri siswa tersebut.
Menurut Hamalik (1982:12) menyatakan “Metode problem solving  merupakan suatu proses belajar mengajar yang titik beratnya diletakkan pada terpecahnya suatu masalah secara rasional logis dan benar serta diharapkan dapat melatih anak didik untuk memecahkan masalah yang timbul.
Pemecahan masalah (problem solving) menurut Pranata (2005:3) didefinisikan sebagai suatu proses penghilangan perbedaan atau ketidaksesuaian yang terjadi antara hasil yang diperoleh dengan yang diinginkan. Dari kutipan di atas dapatlah dimengerti bahwa metode problem solving adalah suatu proses mengajar yang titik beratnya diletakkan pada terpecahnya suatu masalah oleh siswa dengan cara rasional logis dan benar serta berlatih untuk memecahkan masalah yang timbul.

BAB III 
METODE PENELITIAN


A. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan kuantitatif, karena penulis berniat memaparkan, menuliskan dan melaporkan hasil penelitian tentang upaya meningkatkan aktivitas dan hasil belajar matematika siswa melalui metode pemecahan masalah (problem solving). Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yaitu guru melakukan kegiatan di dalam kelas dengan penekanan pada penyempurnaan atau peningkatan proses pembelajaran.
B.  Subjek Penelitian

Penelitian di laksanakan di SMA Negri 5 Metro kelas X1 semester ganjil tahun pelajaran 2007/2008.

C. Faktor yang Diteliti

Dalam penelitian tindakan kelas ini ada beberapa faktor yang diteliti. Faktor-faktor tersebut adalah:

  1. Aktivitas siswa dalam proses pembelajaran matematika dengan menggunakan metode pemecahan masalah (problem solving).
  2. Hasil belajar berupa pencapaian peningkatan pemahaman konsep belajar sesuai dengan tujuan pembelajaran.

                Selengkapnya Hingga BAB V Download Disini


Ryo Bambang Saputra Skripsi

Identifikasi kesulitan penguasaan konsep dan kesalahan konsep fisika


Identifikasi kesulitan penguasaan konsep dan kesalahan konsep fisika

Hai sobat Phisic Education masih seputar Skripsi  pendidikan postingan kali ini yaitu tentang Identifikasi Kesulitan Penguasaan Konsep dan Kesalahan Konsep Fisika. kesalahan konsep berasal dari pemahaman siswa namun kesalahan tersebut juga bisa bersumber dari faktor eksternal dan internal dalam diri siswa. Bagi sobat yang masih binggung mencari gambaran judul skripsi ataupun cara pembuatanya sobat dapat melihat-lihat beberapa postingan yang sudah saya share sebelumnya. silahkan sobat baca skripsi di bawah tentang Identifikasi Kesulitan Penguasaan Konsep dan Kesalahan Konsep Fisika sekian dari saya, semoga coretan sederhana ini bermanfaat bagi anda.

        BAB I

       PENDAHULUAN

      A.  Latar Belakang Masalah


Perkembangan ilmu pengetahuan didorong oleh adanya sistem pendidikan yang maju dan modern ditengah-tengah masyarakat, yang berguna untuk menjawab tuntutan dan kebutuhan masyarakat yang modern dewasa ini dengan permasalahan yang kompleks. Untuk mewujudkan itu, diperlukan usaha yang keras dan memakan waktu yang lama karena memerlukan proses yang panjang. Di antara usaha yang dilakukan adalah dengan meningkatkan sumber daya manusia yang profesional terutama di bidangnya.

Tujuan pendidikan Indonesia telah tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 mengatakan bahwa “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”, hal ini berarti bahwa sebenarnya negara kita ini pendidikan sangat diutamakan. Sebagai suatu komponen pendidikan, tujuan pendidikan menduduki posisi penting diantara komponen-komponen pendidikan lainnya. Dapat dikatakan bahwa segenap komponen dari seluruh kegiatan pendidikan dilakukan semata-mata terarah kepada atau ditujukan untuk pencapaian tujuan tersebut. Upaya yang dilakukan pemerintah dalam pencapaian tujuan tersebut diantaranya adalah dengan pemenuhan sarana dan prasarana, peningkatan mutu guru dengan jalan diklat, penataran, seminar pendidikan. Disistem pendidikan itu sendiri, pemerintah sangat gigih dalam mencapai jalan terbaik untuk sistem pendidikan di Indonesia, diantaranya penyempurnaan kurikulum dari kurikulum 1994, suplemen GBPP, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004 dan kemudian disempurnakan menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).




 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

      A. Pengertian Belajar

Pengertian belajar yang selalu didapatkan dari setiap ahli menunjukan variasi yang beragam. Menurut Slameto (2003:2) bahwa “belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkunganya”.

Walker (dalam Riyanto, 2010:4) mengemukakan bahwa pengertian belajar sebagai berikut:

Belajar adalah suatu perubahan dalam pelaksanaan tugas yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman dan tidak ada sangkut pautnya dengan kematangan kerohaniah, kelelahan, motivasi, perubahan dalam situasi stimulus atau faktor-faktor samar-samar lainnya yang tidak berhubungan langsung dengan kegiatan belajar.


Selanjutnya Winkel (dalam Riyanto, 2010:4) mengemukakan pengertian “belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan-pemahaman, keterampilan, dan nilai-sikap”.

Menurut Sardiman (2005:28) “belajar adalah suatu proses perubahan tingkahlaku individu melalui interaksi dengan lingkungan”.

Lebih lanjut Sardiman (2007:33) mengemukakan bahwa:

 Belajar adalah pembentukan hubungan antara stimulus dan respon, antara aksi dan reaksi. Antara stimulus dengan respon ini akan terjadi suatu hubungan yang erat kalau sering dilatih. Berkat latihan yang terus menerus, hubungan antara stimulus dan respon itu akan menjadi terbiasa, otomatis.




BAB III

METODE PENELITIAN


       A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskritif, sebab dalam penelitian ini peneliti berusaha mengidentifikasi kesulitan dan kesalahan penguasaan konsep Aljabar yang dialami siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Tumijajar Tahun Pelajaran 2011/2012. Dalam penelitian deskriptif bukan mengkaji kebenaran teori, melainkan membangun berdasarkan data yang disimpulkan. Penelitian ini juga merupakan penelitian non hipotesis dimana peneliti mengembangkan konsep serta menghimpun fakta tetapi tidak melakukan pengujian hipotesis.
 B. Kehadiran Peneliti

Kehadiran peneliti dalam penelitian ini adalah sebagai instrumen yang langsung bertindak sebagai pengumpul data dan pelaku penelitian yang membagikan tes kepada subjek yang diteliti.
       C. Tahap-tahap dalam Penelitian

Tahap-tahap dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

      Persiapan, pada tahap ini peneliti melakukan survei ke lokasi yang akan dijadikan sebagai tempat penelitian, di sana peneliti dalam mencari indikasinya dengan menggunakan tes dan wawancara. Di samping survei, peneliti juga menyiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan penelitian dan menyusun perencanaan penelitian.

Pelaksanaan, pada tahap pelaksanaan ini peneliti melakukan metode tes dan wawancara, dimana peneliti sendiri yang membagikan soal.


      Selengkapnya Hingga BAB V Download Disini


Ryo Bambang Saputra Skripsi

Hubungan antara pemanfaatan sumber belajar dan minat belajar terhadap hasil belajar



Hubungan antara pemanfaatan sumber belajar dan minat belajar terhadap hasil belajar


Hai sobat Phisic Education postingan kali ini masih seputar Skripsi sobat yaitu tentang Hubungan Antara Pemanfaatan Sumber Belajar dan Minat Belajar Terhadap Hasil BelajarSumber belajar adalah sumber  berupa data, orang dan wujud tertentu yang dapat digunakan oleh siswa dalam belajar, baik secara terpisah maupun secara terkombinasi sehingga mempermudah siswa dalam mencapai tujuan belajar atau mencapai kompetensi tertentu. Sobat juga bisa lihat dari skripsi-skripsi sebelumnya juga yang tidak kalah menariknya. Silahkan sobat cari-cari yang menurut sobat itu bagus dan menarik hingga segala sesuatu yang anda dapat dari sini menjadi bermanfaat. Silahkan membaca Skripsi di bawah tentang Hubungan Antara Pemanfaatan Sumber Belajar dan Minat Belajar Terhadap Hasil Belajar, semoga bermanfaat untuk anda.

BAB I
PENDAHULUAN

     A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan mempunyai peranan penting dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, karena melalui pendidikan akan tercipta manusia yang terampil dan berkualitas. Dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, pemerintah telah berusaha secara maksimal untuk meningkatkan mutu pendidikan. Pendidikan adalah usaha yang dilakukan pihak tertentu dalam rangka untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, selain itu juga pendidikan merupakan usaha untuk memenuhi kebutuhan tertentu yang akan dicapai suatu bangsa pada masa yang akan datang. Salah satu indikator mutu pendidikan yang memadai adalah meningkatkan hasil belajar siswa yang dapat dilihat dari nilai penguasaan materi pelajaran dan kemampuan memecahkan masalah.
Hasil belajar yang di capai oleh siswa berbeda-beda, ada siswa yang hasil belajarnya tuntas dan ada juga siswa yang hasil belajarnya belum tuntas. Hal ini dapat dipengaruhi berbagai faktor, baik yang bersumber dari dalam diri siswa (faktor internal) dan juga yang bersumber dari luar diri siswa (faktor eksternal). Hal ini berarti bahwa hasil belajar merupakan hasil fenomena yang memiliki ketergantungan dari variabel lainnya. Dalam hal ini sumber belajar memiliki kedudukan yang cukup dominan di dalam pencapaian hasil belajar.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

     A. Pemanfaatan Sumber Belajar
1.   Pengertian Pemanfaatan Sumber Belajar
Pemanfaatan sumber belajar merupakan kegiatan yang bertujuan untuk memperoleh faktor pendukung pencapaian tujuan. Pembelajaran sebagai suatu proses merupakan suatu sistem yang tidak terlepas dari komponen-komponen lain yang saling interaksi didalamnya. Untuk memberikan batasan berkaitan dengan variabel penelitian ini, maka dikemukakan pendapat beberapa ahli sebagai berikut:
Depdikbud (1990: 248) mengemukakan bahwa “pemanfaatan berasal dari kata manfaat yaitu kegunaan atau penggunaan suatu benda atau alat tertentu untuk mencapai suatu tujuan”. Menurut Ahmad Rohani (dalam skripsi Ingka Rikiana, 1997: 102) mengemukakan bahwa ”sumber belajar (learning resources) adalah segala macam sumber yang ada di luar diri seseorang (peserta didik)  dan yang menggunakan (memudahkan)  terjadinya proses belajar”.  Dari kutipan tersebut,  maka dapat diambil pengertian bahwa yang dimaksud dengan sumber belajar adalah suatu komponen penting dalam proses belajar dalam memberikan dukungan dalam usaha pencapaian tujuan.

BAB III
METODE PENELITIAN

      A. Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian yang akan dilakukan merupakan landasan dasar dalam uji kebenaran pada penulisan penelitian ini. Menurut Suharsimi Arikunto (2002: 136) menyatakan bahwa “Metodologi adalah suatu usaha untuk menemukan, menghubungkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan usaha mana yang dilakukan dengan menggunakan metode-metode ilmiah”.
Langkah awal dalam penelitian ini adalah menentukan objek yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti. Langkah berikutnya adalah menentukan populasi dan  sampel untuk menentukan batasan kajian yang dilakukan. Setelah sampel ditentukan, dilanjutkan dengan membuat rancangan angket untuk membuat data kuantitatif  tentang sumber belajar pada sampel penelitian. Angket yang tersusun dibagikan kepada responden dalam penelitian.
Angket di bagikan kepada sampel yaitu siswa kelas VIII SMP Negeri 02 Metro Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2009/2010. Setelah dilakukan penyekoran pada angket maka langkah berikutnya adalah melakukan pencatatan hasil belajar Terpadu pada semester Ganjil. Kelanjutannya adalah menganalisis data untuk pengujian hipotesis untuk mendapatkan kesimpulan.

                      Selengkapnya hingga BAB V Download Disini


Ryo Bambang Saputra Skripsi